Menyambut Gerhana Matahari Ala RASULULLAH SAW


Gerhana Matahari adalah sebuah fenomena dimana ketika itu  posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari.
Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.         

 

Fenomena inilah yang kata para ahli -Insya ALLAH- akan terjadi besok lusa, yaitu Hari Rabu, 9 Maret 2016. (Lebih detail lihat gambar). Atau klik link berikut

Sebagai agama yang sempurna, Islam sudah membicarakan tentang hal ini sejak 14 Abad yang lalu. Diantaranya Ayat dan Hadits berikut ini:

Dalam Al-Quran Surat Fussilat Allah SWT berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (37) } [فصلت: 37 [
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.”(QS.Fussilat 37)

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhori, Muslim Serta Ahmad Ibnu Hanbal:
إِنَّ الشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، لَا يَنْكَسِفَانِ لِـمَوْتِ أَحِدٍ وَلَا لِـحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَصَلُّوْا وَادْعُوْا، حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ»

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan               adalah dua tanda dari tanda-tanda            kebesaran ALLAH, tidak lah keduanya       mengalami gerhana karena kematian salah seorang diantara kalian dan            kelahiran nya. Jika kalian melihat fenomena ini maka shalat dan berdoalah sampai keadaan kembali cerah.”(HR. Al-Bukhori, Muslim dan Ahmad)  .        

Konon katanya hadits ini diriwayatkan di saat wafatnya putra Rasullah SAW yang bernama Sayyid Ibrohim, saat itu beberapa sahabat menganggap bahwa gerhana ini akibat wafatnya putra beliau.

Well, berawal dari hadits itulah para ulama sepakat bahwa disunnahkan untuk melakukan shalat ketika terjadi gerhana shalat inilah yang dinamakan Shalat Kusuf (untuk gernaha matahari) & Khusuf (untuk gerhana bulan).

Cara Shalatnya???

Para ulama menerangkan bahwa ada 3 macam cara untuk melakukan shalat ini, yaitu:
1. Shalat dua rakaat seperti shalat sunnah pada umumnya,
2. Shalat dua rakaat dengan melakukan 2 kali membaca Al-Fatihah dan dua kali ruku’. (Tanpa memanjangkan Bacaan)
3. Shalat dua rakaat dengan melakukan 2 kali membaca Al-Fatihah dan dua kali ruku’, Dengan memanjangkan bacaan Surat dan Tasbihnya.

Silakan mau pilih yang mana??, Tapi kalau boleh usul si, sebaiknya kerjakan yang nomor 2 atau 3 biar ada bedanya dengan shalat sunnah pada umumnya.

Berikut SOP (Standard Operasional) / tata cara pelaksanaan nya:

1. Niat shalat 2 roka'at gerhana matahari Sembari bertakbir:
"أُصَلِّي سُنَّةَ كُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى "
2. Membaca Doa iftitah
3. Membaca Surat Al-fatihah dan dilanjutkan dengan Surat lain. 
4. Ruku'  pertama.
5. Bangun dari posisi ruku' (kembali berdiri). 
6. Membaca Surat Al-fatihah dan surat untuk yang kedua kalinya.
7. Ruku'  kedua (masih di roka'at pertama)
8. I'tidal (kembali dari ruku’)
9. Sujud dua kali seperti seperti biasa, dan ini terhitung 1 rakaat.
10. Duduk tasyahhud akhir seperti biasa
11. Salam

Setelah salam disunnahkan untuk khutbah dua kali seperti khutbah jum'ah. Oleh karena itu sebaiknya shalat ini dilakukan secara berjamaah (masa sih kamu mau khutbah sendirian nggak ada yang ndengerin?? ^_^)

Setelah shalat dan dua khutbah dilaksanakan, kita dianjurkan untuk memperbanyak bertakbir, berdo'a, bersedekah dan bertafakkur tentang kebesaran Allah swt dengan selalu merendahkan diri, karena sesungguhnya tiada kekuatan dan kemampuan kecuali dari Allah swt.

Demikian sekelumit catatan sedehana tentang tata cara menyambut gerhana versi Rasulullah SAW, semoga bermanfaat dan kita dipilih oleh Allah Swt menjadi hamba yang mengamalkan kesunnahan-kesunnahan di atas.
Amiin Ya Robbal Alamiin

Oleh: Muhammad Ajir Ubaidillah
Alumni Sunniyah Salafiyah (Pasuruan)